Ilustrasi peredaran narkoba (istimewa)
Ilustrasi peredaran narkoba (istimewa)

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur (Jatim) menyatakan bahwa tingkat peredaran narkoba di wilayah Malang Raya cenderung meningkat. Bahkan sudah merambah usia anak-anak yang masih duduk di sekolah sebagai sasaran edar.

Pola peredaran narkoba di wilayah Indonesia memang begitu cepat berubah. Pasalnya, segala cara dilakukan agar para pecandu terus menggunakan dan tidak bisa lepas dari barang haram tersebut.

Kepala BNNP Jatim Brigjen Pol Bambang Priyambadha mengatakan bahwa saat ini peredaran narkoba di Malang Raya meningkat cukup signifikan. Namun tingkat peredaran tersebut masih kalah dengan Sampang, Madura yang dinilai sangat rawan.

"Di Malang peredaran narkoba mengalami kenaikan, cukup signifikan kenaikannya, tapi masih cenderung Sampang. Dan saat ini wilayah Sampang jadi sorotan bahkan atensi kami," tegas Brigjen Pol Bambang Priyambadha.

Sepanjang tahun 2019 lalu, tren peredaran narkoba di lingkup Jatim sudah berhasil mengamankan barang bukti sebanyak 70 kilogram sabu, jumlah yang meningkat dari tahun sebelumnya.

"Untuk tahun 2018, BNNP Jatim mengamankan 26 kilogram sabu. Tahun 2019 lalu juga kami sita 70 kilogram sabu, macam-macam, karena jajaran ya," ungkapnya.

Menurut Brigjen Pol Bambang Priyambadha jaringan peredaran narkoba di wilayah Jatim saat ini sudah dimasuki oleh negara asing melalui armada kapal laut. Dengan itu pihaknya kini akan meningkatkan kewaspadaan dari berbagai sisi.

"Kejadian yang sudah kami tangani dari Sampang. Barang bukti yang lebih banyak dari Sampang. Kebanyakan dari kapal laut, jadi dari Malaysia (langsung) masuk ke Perak, lalu ke Madura," beber Brigjen Pol Bambang Priyambadha.

Sementara itu, seperti yang diberitakan MalangTIMES sebelumnya bahwa peredaran narkoba saat ini sudah merambah anak-anak mulai tahun 2015 hingga saat ini.

Ketua BNN Kota Malang AKBP Agoes Irianto membeberkan khusus di tingkat Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari sekitar 125 sekolah di Kota Malang tercatat rata-rata lima dari sepuluh siswanya telah terjerat narkoba.

Hal itu juga terbukti kala BNN Kota Malang mendatangi sebuah sekolah dan mengumpulkan 70 siswanya. Saat itu, BNN meminta para siswa mengaku siapa saja yang pernah memakai narkoba. Hasilnya sangat mengejutkan. Sebanyak 40 siswa mengaku pernah memakai atau terpapar narkoba.

"Tahun 2019, dari 80 pecandu, 25 di antaranya adalah pelajar dan ada empat yang berusia di bawah 15 tahun.  Dari 125 sekolah yang yang kami berikan penyuluhan, memang hampir 80 persen ada indikasi terpapar narkoba," ungkap AKBP Agoes Irianto.