Tim penggagas Integrated Forest Fire Management System. (Foto: istimewa)
Tim penggagas Integrated Forest Fire Management System. (Foto: istimewa)

Hutan Indonesia merupakan hutan yang menduduki urutan ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis dan sumbangan dari hutan hujan (rain forest) Kalimantan serta Papua.

Menurut data Forest Watch Indonesia (FWI), sebuah lembaga independen pemantau hutan Indonesia, sejumlah 82 juta hektare luas daratan Indonesia masih tertutup hutan.

Maka dari itu, selain Brazil, Indonesia menjadi penyumbang terbesar kadar oksigen dunia yang kemudian sering disebut sebagai paru-paru dunia.

Sayangnya kebakaran hutan, baik yang terjadi karena musim kemarau atau pembukaan lahan ilegal, menjadi masalah yang tak kunjung usai.

Dari data BNPB yang di-update pada 15 September 2019, tercatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 328.722 hektare  dengan jumlah titik panas 538 titik panas.

Masalah ini menggelitik sekelompok mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membuat sistem pintar atau teknologi yang bernama Integrated Forest Fire Management System. Yakni alat yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mendeteksi kebakaran hutan.

"Cara kerja sistem ini adalah dengan memanfaatkan sensor LM35 dan sensor flame menggunakan artificial jntelligence sebagai pemproses data," ungkap Billy Aprilio selaku ketua kelompok.

Inovasi yang dibimbing dosen Fakultas Teknik Nur Hayatin tersebut digadang mampu mengurangi perluasan dampak kebakaran.

Input yang didapat dari teknologi besutan Billy, Yasril Imam, dan Ulfah Nur Oktaviana ini berupa temperatur suhu dan nyala api. Ketika terjadi kebakaran, maka sensor akan mendeteksi secara otomatis. Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air guna disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran.

"Di mana air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun alami dengan menggunakan pemanen embun menggunakan jaring atau fog harvesting," papar Billy.

Penyemprot akan menyemprotkan air pada periode waktu tertentu yang kemudian akan dilakukan pengecekan ulang terhadap suhu sekitar. Jika dinilai masih terdeteksi suhu tinggi, maka penyemprot akan diaktifkan kembali.

"Namun, apabila sensor mendeteksi kategori kebakaran hutan tingkat tinggi, maka sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal tempat kebakaran pada komputer pusat. Sehingga, tidak akan terjadi kebakaran yang jauh lebih besar,"ungkapnya menjelaskan sistem kerja alat.

Selanjutnya, hasil fog harvesting tersebut akan disalurkan ke tangki air (water tank) sebagai tempat penampungan. "Kemudian untuk power supply, kami menggunakan panel surya untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber daya utama yang kami aplikasikan pada pompa penyemprot air. Adanya sistem pintar ini diharapkan akan meminimalisasi terjadinya kebakaran hutan besar," pungkasnya.