Nossa Melenega Sistim (berkaos merah), bersama Plt. Kadiknas Suratno serta kedua ortunya Sistim Indra Setiawan dan Indah Purwaningrum
Nossa Melenega Sistim (berkaos merah), bersama Plt. Kadiknas Suratno serta kedua ortunya Sistim Indra Setiawan dan Indah Purwaningrum

BANYUWANGITIMES - Harapan menempuh pendidikan tinggi di luar negeri semakin terbuka. Terbaru, sebanyak 11 anak muda asal Banyuwangi terpilih untuk menempuh pendidikan perguruan tinggi melalui program beasiswa yang diberikan Pemerintah China dalam program Chinese Government Scholarship 2019. 

Ke 11 anak muda tersebut merupakan lulusan beberapa SMA Negeri di kabupaten yang berjuluk Sunrise of Java itu. Plt. Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kabupaten Banyuwangi Suratno, secara resmi melepas keberangkatan mereka. 

Anak-anak muda ini didampingi pimpinan Yayasan Batuta Banyuwangi, Angga Yudhistira, yaitu tempat anak-anak tersebut selama ini belajar bahasa mandarin. Atas nama Pemkab Banyuwangi, Suratno menyampaikan ucapan selamat dan menyatakan kebanggaannya yang luar biasa atas capaian dan raihan mereka.

“Selamat. Saya bangga dengan terpilihnya kalian dalam program beasiswa CGS ini. Tidak gampang  memiliki motivasi untuk bisa menempuh pendidikan di luar wilayah kita sendiri. Tentu dibutuhkan visi ke depan yang berkaitan dengan masa depan,” ujar pria yang sebelumnya menjabat Kabid SMP ini.

Walaupun mendapatkan beasiswa ke luar negeri, anak-anak muda tersebut tetap diminta untuk menunjukkan pribadinya sebagai orang Indonesia. Khususnya, warga Banyuwangi yang selalu memegang nilai-nilai keluhuran bangsa.

“Saya titip kepada kalian, Think Globally, Action Locally. Artinya, di tengah belajar mengembangkan kompetensi, tetaplah ingat darimana kalian berasal. Bawa nama baik daerah dan tetaplah berkultur Banyuwangi,” pesannya.

Selain itu, Suratno juga minta agar para peraih beasiswa ini menerapkan 6C. Yang pertama, critical thinking, yakni bisa berpikir kritis, menentukan mana yang baik dan tepat dan harus dieksekusi. Caranya, dengan banyak berliterasi atau banyak membaca. 

Kedua, communication. "Sebelas orang ini komunikasinya harus utuh, jangan lepas dari kawannya, dan harus saling mengingatkan,” himbau Suratno.

Ada juga collaboration, creativity, competing logic dan cohession atau bekerja dengan hati serta tetap rendah hati.

“Kami bangga ada anak-anak Banyuwangi yang punya kesempatan kuliah langsung di China. Bentuklah diri kalian secara bertahap. Pertama sebagai employer (pekerja), kemudian self employee (bekerja untuk dirinya sendiri), lalu businessman, hingga meningkat menjadi investor,” tandas Suratno.

Sebelumnya, para peraih beasiswa  tersebut belajar bahasa mandarin dengan mengikuti kursus di Yayasan Batuta. Batuta Banyuwangi merupakan sebuah yayasan pendidikan yang bergerak di bidang konsultasi pendidikan dan rumah belajar bahasa mandarin. 

Yayasan ini terbentuk di awal 2019. Salah satu program yayasan ini adalah pendampingan belajar bahasa mandarin dan program beasiswa belajar ke luar negeri.

Terpisah, pimpinan Yayasan Batuta Banyuwangi, Angga Yudhistira menerangkan, Pemerintah China memang membuka pintu seluas-luasnya bagi anak-anak muda yang ingin belajar di China.

“Pemerintah China ingin memberi sumbangsih lebih bagi anak-anak muda. Pengumuman tentang program ini selain diperoleh dari Kedutaan Besar China, juga bisa melalui universitasnya masing-masing. Mereka yang lolos seleksi  ini adalah lulusan terbaik dari sekolahnya,” beber Angga, Minggu (8/12/19).

Rata-rata, lanjut Angga, para calon mahasiswa ini belajar di Batuta selama 3 - 4  bulan untuk memperlancar kemampuan berbahasa mandarinnya.

Salah satu penerima beasiswa, Nossa Melenega Sistim mengaku bersyukur dan bersemangat ingin segera sampai di China untuk memulai pendidikan di sana.

“Bersyukur sekali bisa terpilih sebagai penerima beasiswa ini bersama 10 rekan lainnya. Tidak pernah bermimpi bisa belajar di China. Mudah mudahan bisa mendapat ilmu yang manfaat, berguna bagi nusa dan bangsa,” cetus Nossa yang penghobi touring dengan komunitas Honda Beat Street nya ini, Minggu (8/12/19).

Diantara ke-11 siswa-siswi penerima beasiswa CGV 2019 ini antara lain ; Nossa Melenega Sistim dari SMAN 1 Banyuwangi. Nossa, putra pertama pasangan suami istri Sistim Indra Setiawan dan Indah Purwaningrum asal Desa Blambangan, Kecamatan Muncar ini diterima di Fakultas International Trade Business. Lalu ada Virosya Amala asal SMAN 1 Glagah yang diterima di Fakultas International Trade Business (China E-Commerce). Iqshal Sulton Ardhana (SMAN 1 Banyuwangi), Fakultas Environmental Engineering. Adellya Putri Gunawan (SMAN 1 Rogojampi) di Fakultas Pharmacy.

Di universitas yang berbeda, ada Nehrin Fahmi Suviana (SMAN 1 Banyuwangi) di Nanning College for Vocational Technology di Fakultas International Relations Program, dan Faisal Auliyandi (SMAN 1 Banyuwangi) di Fakultas Information and Technology.

Ada pula Diva Shitarani (SMAN1 Glagah) di Weifang University for Science of Technology di Fakultas International Trade Business. Diikuti rekan-rekan lainnya Salman Faris (SMAN 1 Banyuwangi) yang diterima di Fakultas International Business Management. Surotul Hadiyani (SMAN 1 Glagah) di  Fakultas Public Health. Serta Sefi Amelia (SMAN 1 Banyuwangi) di  Fakultas Fashion Performance and Image Design.