Kades Nyawangan, Kecamatan Sendang, Sabar melihat kandang sapi  salah satu warga. (foto : Joko Pramono/Jatim Times)
Kades Nyawangan, Kecamatan Sendang, Sabar melihat kandang sapi salah satu warga. (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

Akhir-akhir ini ketenangan warga Nyawangan, Kecamatan Sendang, Tulungagung, terusik. Pasalnya, di desa yang menjadi sentra susu sapi itu, ada  delapan sapi yang mati secara misterius dalam satu bulan terakhir. Padahal, sehari sebelumnya, sapi-sapi yang mati masih dalam keadaaa sehat.

“Warga mengira sapi itu mati karena racun,” ujar Kades Nyawangan Sabar saat dikonfirmasi oleh awak media, Selasa (3/12/19).

Dari delapan sapi yang mati itu, enam ekor terdapat di Dusun Puthuk dan dua di Dusun Klanggeran. Di Desa  Nyawangan sendiri, populasi sapi sekitar 6 ribu ekor dan sekitar 90 persenya merupakan sapi perah.

Sebelum mati, sapi diketahui melenguh secara keras, lalu jatuh. Setelah terjatuh, sapi bangun lagi, tapi kembali terjatuh dan mati.

Melihat gajala atau tanda sebelum mati, Sabar menduga sapi mati akibat racun. “Kalau menurut keterangan warga, saya katakan akibat keracunan,” ucap Sabar.

Terakhir, sapi mati terjadi pada 17 hari lalu. Sebelumnya, kematian sapi ini terjadi berurutan selama satu bulan. Sapi yang mati rata-rata berusia dewasa dan bertubuh gemuk. 

Setelah mendapat laporan adanya sapi mati, kades segera mengumpulkan seluruh perangkat desa.  Sabar meminta jika ada lagi sapi yang mati, agar segera menghubungi perangkat desa dan akan diteruskan ke dinas peternakan guna mengetahui penyebab kematian pasti sapi tesebut.

Hingga saat ini, pihak desa  belum meporkan hal itu kepada Dinas Peternakan. Namun, Sabar sudah melaporkan hal itu ke Polsek Sendang. “Saya sudah lapor ke polsek tapi nggak resmi. Polsek sudah ke sini dan sudah lidik,” ujarnya.

Namun, hingga saat ini, belum ada titik terang akan kejadian itu lantaran bangkai sapi dijual oleh pemilik kepada jagal sapi di wilayah Kediri untuk memperkecil kerugian.

Informasi yang simpang siur di media sosial turut memperkeruh suasana di desa ini. Warga menjadi semakin waswas. Apalagi saat ada postingan untuk berjaga di satu dusun, maka warga di satu desa menjadi resah dan berjaga semalam suntuk. 

Bahkan saat ada suara buah jatuh, warga langsung bereaksi seakan ada orang yang hendak meracuni sapinya. “Hanya ketakutan dan kepanikan warga yang berlebih,” ungkap Sabar.

Sabar melihat ketakutan warga ini sebagai sesuatu yang wajar lantaran kehidupan masyarakat Nyawangan bergantung dari ternak sapi perah.

Sementara itu, Kepala Dusun Puthuk Sutikno menjelaskan, sebelum mati, sapi dalam kondisi baik-baik saja. Namun sapi tiba-tiba menjadi agresif dengan meloncat-loncat, lalu melenguh dengan keras dan loncat lagi kemudian mati. “Warga bingung, itu (sapi) kenapa?” ujar Sutikno.

Disinggung warga yang melakukan penjagaan hingga bersenjatakan senjata tajam, Sutikno menampik hal itu.  Menurut dia, penjagaan tetap ada, namun hanya berada di sekitar poskamling setempat. “Nggak ada. Cuma jaga di poskamling seperti biasa,” pungkasnya.