Tiwi Rahayu alias Reva tersangka sekaligus pemilik karaoke yang memperkerjakan anak dibawah umur untuk menjadi LC saat sesi rilis di halaman Mapolres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Tiwi Rahayu alias Reva tersangka sekaligus pemilik karaoke yang memperkerjakan anak dibawah umur untuk menjadi LC saat sesi rilis di halaman Mapolres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)



Terungkapnya kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) oleh Polres Malang membuka parahnya jaringan human trafficking di Jawa Timur. Anak-anak baru gede (ABG) masih termasuk populasi rawan menjadi korban perdagangan orang.

Tersangka Tiwi Rahayu alias Reva warga asli Desa Klagen Gambiran, Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan, yang diamankan polisi karena kasus TPPO, ternyata sudah sering memperkerjakan anak di bawah umur. Hal ini disampaikan langsung oleh Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung, saat sesi rilis di halaman Mapolres Malang, Rabu (6/11/2019) siang. 

”Di tempat karaoke milik tersangka, yang bersangkutan diketahui mempekerjakan 4 orang. Dua di antaranya masih anak-anak yang berusia 15 tahun. Selain disuruh untuk menemani tamu saat berkaraoke (LC), para anak di bawah umur ini juga dipekerjakan melayani pria hidung belang untuk berhubungan badan,” kata anggota polisi yang akrab disapa Ujung ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus perdagangan anak di bawah umur ini terungkap dari laporan yang diterima Polsek Sumberpucung, Senin (4/11/2019). Pada polisi, keluarga korban menyatakan jika Jelita (bukan nama sebenarnya) diketahui sudah kabur dari rumahnya yang berada di wilayah Kabupaten Lumajang, sejak 31 Oktober 2019.

Keluarga sudah berusaha mencari keberadaan anak 15 tahun itu. Lantas, pihak keluarga mendapat informasi jika Jelita dibawa oleh salah seorang temannya untuk bekerja di wilayah Kecamatan Sumberpucung.

Mendapat laporan, anggota Unit Reskrim Polsek Sumberpucung akhirnya dikerahkan untuk melakukan penyelidikan. Hasilnya, petugas mendapat keterangan jika Jelita dipekerjakan di Karaoke Reva. 

Di salah satu tempat karaoke yang berlokasi di Desa/Kecamatan Sumberpucung ini, Jelita dipekerjakan sebagai seorang LC sekaligus wanita penghibur untuk melayani tamu yang berniat melakukan hubungan badan.

Benar saja, saat dilakukan penggerebekan, petugas mendapati Jelita sedang bekerja di tempat karaoke tersebut. Guna kepentingan penyidikan, kasus ini akhirnya dilimpahkan ke UPPA (Unit Pelayanan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polres Malang.

”Dari hasil penyidikan, di tempat karaoke tersangka terdapat sekitar 10 ruangan. Selain dimanfaatkan untuk berkaraoke, di 10 ruangan itu juga dijadikan tempat untuk para tamu yang ingin melakukan hubungan badan dengan anak di bawah umur tersebut,” terang Ujung.

Perwira polisi dengan pangkat 2 melati di bahu ini menambahkan, tersangka memanfaatkan jaringan LC sebagai modus untuk merekrut anak-anak ABG. Tersangka mengaku, dia mendapatkan ABG melalui jaringan para LC yang bekerja di tempat karaokenya.

Meski demikian, ada juga sebagian LC yang ikut tersangka tanpa paksaan alias datang secara sukarela. ”Para korban trafficking (perdagangan orang) yang masih remaja ini, berasal dari anak-anak yang masih berusia belasan tahun. Kebanyakan dari korban merupakan pelajar yang sudah putus sekolah,” imbuh Ujung.

Hingga berita ini ditulis, penyidik masih terus melakukan pengembangan. Diduga kuat, praktik trafficking ini melibatkan banyak korban. ”Terhadap tersangka kami jerat dengan pasal 83 juncto pasal 76 F dan pasal 88 juncto pasal 76 I, Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak serta pasal 2 ayat 1 Undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang,” tutup Ujung.

 


End of content

No more pages to load