Ery Ege Anwar, pelaku penganiaya anak hingga tewas (baju oranye) saat dirilis di Polres Malang Kota. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

Ery Ege Anwar, pelaku penganiaya anak hingga tewas (baju oranye) saat dirilis di Polres Malang Kota. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)



Ayah tiri penganiaya anak hingga tewas, yakni Ery Age Anwar (36), warga asli Bangsren RT 02/RW 03, Sukoharjo, Jateng, kini telah ditetapkan menjadi tersangka oleh pihak kepolisian.

Kebiadapan Ery  bakal membuatnya mendekam dalam penjara dalam waktu yang cukup lama. Ancaman 15 sampai 20 tahun penjara menanti pelaku sesuai Pasal 80 Ayat 3 UU no.35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak.

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander menjelaskan, sesuai hasil interogasi ulang, tersangka Ery mengaku telah terjadi aksi penganiayaan terhadap korban Agnes Arnelita (3) hingga  meninggal.

"Hasil otopsi memang terjadi perdarahan di usus besarnya. Ada robekan yang mengakibatkan bleeding atau perdarahan yang mengakibatkan korban meninggal," kata kapolres (1/10/2019).

Dari hasil keterangan tambahan,  pelaku Ery memang sering melakukan perbuatan kasar, seperti mencubit atau memukul, Agnes. Penyebabnya, karena korban sering buang air sembarangan.

"Keterangan saksi dan mertua, sang anak memang sering bercerita baru saja dicubit atau dipukul. Ini jadi suatu keterangan tambahan yang akan kami gali terus," ucap kapolresta.

Sebelumnya, pelaku memberikan keterangan bohong kepada pihak kepolisian. Pelaku mengaku   korban meninggal  sempat tenggelam.

Alibi Ery, awalnya Agnes meminta mandi. Kemudian pelaku melepas baju korban untuk persiapan mandi. Setelah itu, korban sendirian ke kamar mandi dan ayah tirinya kembali mengasuh adik korban  di depan rumah.

Saat mengasuh adik korban di depan rumah, ayah tirinya  hendak mengambil air di dapur. Saat di depan kamar mandi, Ery melihat korban dalam posisi tenggelam di bak air. Dia lantas melakukan pertolongan.

Melihat kondisi Agnes yang menggigil kedinginan, bocah itu dibawa ke Ruman Sakit Refa Husada di Jalan Mayjen Sungkono Kota Malang sekitar pukul 14.00 WIB, Rabu (30/10/2019).

Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata korban dinyatakan meninggal dunia. Saat itu juga ayah tiri korban menyelesaikan administrasi dan jenazah korban dibawa pulang.

Namun, saat dimandikan di rumah neneknya di Purwosekar, Tajinan, keluarganya menemukan beberapa luka lebam dan memar di tubuh korban. Kejanggalan itu lantas dilaporkan ke polisi.

 


End of content

No more pages to load