Ipda Anwari saat menunjukan barang bukti kasus persetubuhan dan pencabulan terhadap santriwati. (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

Ipda Anwari saat menunjukan barang bukti kasus persetubuhan dan pencabulan terhadap santriwati. (foto : Joko Pramono/Jatim Times)



Santriwati korban perkosaan, sebut saja Anggrek (14), ternyata tak hanya sekali dicabuli oleh tersangka Tri Kurniawan Efendi (22), warga Desa Ketanon, Kedungwaru, Tulungagung, dan Cokro Aminoto, warga Desa Rejoagung, Kedungwaru.

Dari pengakuan tersangka Tri Kurniawan, dirinya mencabuli korban sebanyak dua kali. Perbuatan asusila itu dilakukan di kamar mandi. Sedangkan Cokro Aminoto satu kali mencabuli dan melakukan persetubuhan dengan Anggrek. 

Kejadian bermula saat Anggrek dan temannya Melati (12) keluar dari pondok pesantren di daerah Kedungwaru. Keduanya keluar saat salat Isya berjamaah. 

Awalnya mereka menuju tempat perbelanjaan di wilayah kota. Saat ingin balik ke pondok pesantren, kedua santriwati itu kehabisan uang sehingga berjalan menuju pondok.

Sesampainya di Pinka, Melati kelelahan dan mengalami mimisan. Saat itulah mereka bertemu dengan kedua tersangka yang menawarkan bantuan kepada kedua santriwati tersebut.

“Awalnya mereka (kedua tersangka) berniat menolongm tapi di tengah jalan ada niat jahat dari tersangka,” ujar kapolres Tulungagung melalui Paur Humas Polres Tulungagung Ipda Anwari, Kamis (31/10/10).

Karena sudah mulai larut malam, lantas dua pemuda tersebut berusaha menolong untuk mencarikan tempat tinggal sementara dengan pilihan mengajak pulang ke rumah salah satu tersangka, Cokro, di Desa Rejoagung.

Korban awalnya menolak. Namun karena bujuk rayu tersangka, korban akhirnya mau diajak ke rumah Cokro.

Saat di rumah kosong milik Cokro yang berada di Desa Rejoagung inilah, korban pada Sabtu (26/10/19) sekitar pukul 20.00 dicabuli dan diperkosa oleh Cokro. Anggrek sempat melakukan perlawanan. Namun karena kalah tenaga, akhirnya korban tak berdaya.

Tak berhenti sampai di situ, rekan Cokro yang bernama Tri Kurniawan juga mencabuli Anggrek pada Minggu (27/10/19) hingga dua kali di kamar mandi.

“Setelah dua hari di rumah Cokro, korban diantarkan ke Kelurahan Sembung untuk dititipkan ke rumah temannya,” terang Anwari.

Sebenarnya korban sempat menghubungi orang tuanya. Dari sambungan telepon itu, orang tua korban, BE, melacak nomor tersebut dan menemukan korban di Sembung.

Di Sembung inilah, kedua tersangka ditangkap oleh BE. Selanjutnya BE melaporkan tindak pidana persetubuhan dan pencabulan ini ke pihak berwajib.

Kedua tersangka diancam dengan pasal 76D jo pasal 81 ayat 1 atau ayat 2 dan atau pasal 76E jo pasal 82 ayat 1 UU 23 Tahun 2002 sebagai mana diubah sebagai UU 35/2014 dan diubah lagi sebagai UU 17 Tahun 2016 tentang perlindungan anak. “Hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara,” pungkas Anwari.

 


End of content

No more pages to load