Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander sesaat usai menerima hasil otopsi Agnes Arnelita. (Hendra Saputra)

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander sesaat usai menerima hasil otopsi Agnes Arnelita. (Hendra Saputra)



Hasil otopsi terhadap bocah tiga tahun Agnes Arnelita, yang awalnya disebut meninggal dunia karena tenggelam di bak mandi, mulai terungkap. Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander menyatakan korban  mengalami perdarahan pada lambung akibat tekanan yang sangat keras dan kuat.

Hal itu memunculkan dugaan kuat  bahwa Agnes mengalami penyiksaan dan tindak kekerasan sehingga menyebabkan nyawanya melayang. Lantas, siapa pelakunya? 

Polisi sampai sekarang masih memeriksa ayah tiri Agnes, yakni Ery Age Anwar (36). Ery-lah yang menjaga di rumah saat  Agnes mandi. Dia juga yang mengungkapkan bahwa anak tirinya itu tenggelam di bak mandi sehingga dilarikan dan meninggal di rumah sakit.

"Adanya pendarahan pada lambung karena tekanan yang keras dan sangat kuat sehingga ada robekan khusus. Penyebab kematian sudah jelas dari tim dokter seperti itu," ujar AKBP Dony Alexander di depan kamar mayat Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang.

AKBP Dony Alexander juga menyebut ayah tiri Agnes sebagai calon tersangka. Dari pemeriksaan terhadap Ery, polisi mendapatkan pengakuan bahwa  Ery membalurkan minyak di tubuh Agnes karena kedinginan. Tapi karena Agnes masih menggigil, akhirnya Ery "memanggang" korban di atas kompor.

"Penyidikan awal, ayah tiri mengaku melihat korban saat tenggelam menggigil. Lalu dia membalurkan dengan minyak. Tapi karena masih menggigil,  dia memanaskan di atas kompor," bebernya.

Dari hasil otopsi ini, Polres Malang Kota akan segera melakukan prarekonstruksi bagaimana kondisi korban ketika kejadian. "Nantinya akan dilanjutkan pada proses penyidikan apakah menggunakan benda atau tangan kosong," ucap kapolres.

Seperti diberitakan, awalnya Agnes disebut meninggal karena tenggelam di bak mandi rumahnya di  Perum Tlogowaru Indah D-4, Kedungkandang, Kota Malang. Saat itu di rumahnya, ada Ery yang juga menjaga adik Agnes.

Namun, ketika jenazah dibawa pulang dari RS Refa Husada ke rumah neneknya di Tajinan, keluarganya melihat banyak luka lebam di tubuh bocah itu sehingga berlanjut ke laporan polisi. Polresta Malang yang melihat ada kejanggalan membawa jenazah Agnes ke RS Saiful Anwar untuk diotopsi.


End of content

No more pages to load