Edy Soelamsiyanto, pemohon ukur tanah yang merasa menjadi korban.

Edy Soelamsiyanto, pemohon ukur tanah yang merasa menjadi korban.



Kinerja petugas Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Banyuwangi diduga tidak profesional. Seorang warga bernama Edy Soelamsiyanto menjadi korban. 

Pria berusia 74 tahun yang berdomisili di wilayah Kecamatan Licin ini sudah tiga tahun lebih mengajukan permohonan ukur tanahnya. Namun hingga hari ini, belum ada tanda-tanda realisasinya.

Pensiunan kepala SDN itu saat ditemui media ini mengaku mengurus akta dan sertifikat hak milik (SHM) tanah miliknya melalui notaris Ridwan yang berkantor di Kota Banyuwangi. "Pengajuan ukur tanahnya sesuai nomor berkas 51523/2016 per tanggal 26 Agustus 2016. Tapi sampai hari ini, peta bidangnya belum pernah turun, Mas," ungkapnya.

Pria asal Kecamatan Tegalsari ini berharap, pengurusan akta dan SHM miliknya bisa segera rampung mengingat waktunya sudah jauh melampaui batasan sebagaimana regulasi yang ditetapkan BPN Banyuwangi. "Kata orang-orang yang pernah ngurus sertifikat, biasanya cukup dengan waktu enam bulan bisa selesai. Lha ini kok kepunyaan saya sampai tiga tahun lebih," sesal Edy dengan nada prihatin.

Sedangkan notaris Ridwan yang dikonfirmasi media ini mengakui sebagai pihak yang mengurusi akta dan SHM atas nama Edy Soelamsiyanto. Ridwan berjanji akan melakukan cek ulang bersama BPN.

"Selamat siang, besok dicek ulang sama BPN nggih. Dulu itu BPN gak berani ukur soalnya tetangga kanan kiri gak mau tanda tangan. Insya Allah tunggu hasil peta bidang dulu nggih pak, target Januari harus jadi," jelas Ridwan melalui chat Whatsaap.

Kepala Kantor BPN Banyuwangi yang dikonfirmasi melalui Kasubsi Pengukuran dan Pemetaan Kadastral Akhmad Syaikhu mengaku hendak melakukan cek data dulu. "Iya Pak, saya cek dulu ya. Saya masih tugas di Surabaya sekarang Pak," balasnya singkat melalui Whatsaap.

 


End of content

No more pages to load