Menteri Keuangan RI Sri Mulyani saat orasi ilmiah di Dome UMM. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani saat orasi ilmiah di Dome UMM. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



Banyak anggapan miring yang diterima Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati selama ini. Mulai dari menteri yang hanya memungut pajak hingga dianggap identik dengan menteri utang.

Menurut Sri Mulyani, orang-orang yang beranggapan begitu adalah orang-orang yang kurang memiliki analytical thinking. "Banyak yang bertanya kepada saya, APBN untuk apa. Banyak juga orang yang selalu berkomentar menteri keuangan seolah-olah hanya mungut pajak. Banyak juga bahkan yang omong menteri keuangan cuman identik dengan menteri utang," ungkapnya saat orasi ilmiah di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (10/10/2019).

"Kalau kalian termasuk yang begitu, kalian kurang memiliki analytical thinking," imbuhnya.

Sri Mulyani mengatakan, APBN memiliki dimensi yang begitu banyak. Belanja negara, baik untuk sektor seperti pendidikan, industri, perdagangan, pertanian, kesehatan, maupun belanja pemerintah daerah banyak sekali yang sangat bergantung kepada APBN.

Sementara pembiayaan banyak hal di republik ini mayoritas berasal dari penerimaan pajak. "Pendapatan, baik dari pajak, maupun bea dan cukai adalah merupakan pendapatan yang terbesar," ucapnya.

Pada tahun 2020 nanti, lanjut Sri Mulyani, Indonesia akan memiliki postur untuk membelanjakan APBN sebesar Rp 2.540 triliun. Sementara pendapatan Indonesia sebesar Rp 2.233 triliun.

"Oleh karena itu, karena belanja kita Rp 2.500 triliun, pendapatan kita Rp 2.230 triliun, kita untuk tahun depan defisit sebesar Rp 307 triliun," lanjutnya.

Nah, terdapat 5 fokus yang akan dilakukan dengan membelanjakan Rp 2.500 triliun tadi. Pada bidang SDM, pendidikan dan kesehatan mengambil dana yang terbesar di dalam APBN. "Rp 508 triliun untuk pendidikan dan Rp 132 triliun untuk kesehatan," ucapnya.

Kedua, untuk pengurangan kemiskinan dan kesenjangan, dibutuhkan Rp 373 triliun. Yang ketiga yakni untuk membangun infrastruktur sebesar Rp 423 triliun.

"Yang keempat untuk membangun institusi birokrasi yang lebih baik. Termasuk TNI, Polri, ASN pusat dan daerah itu Rp 261 triliun," ungkapnya.

Dan yang terakhir, yakni APBN untuk menjaga Indonesia dari shock atau hal-hal yang tidak pasti. Misalnya bencana alam. "Itu kami menciptakan apa yang disebut bantalan," imbuh Sri Mulyani.

Untuk itu, ia berpesan kepada mahasiswa untuk biasa membaca dan mempelajari data sebelum mempersoalkan utang. "Saya sangat menyayangkan kalau mahasiswa, meskipun jurusan kalian sosial politik, tidak mencegah Anda untuk bisa membaca data. Baca data, pelajari, dan kalau perlu bergaul sama anak-anak ekonomi. Baru kalian ngomong, debat di situ," tukasnya.
 

 


End of content

No more pages to load